Sunday, 30 April 2017

NgeShare - Dekat


Dan kau datang lagi, di sela-sela waktuku yang telah mampu untuk melupakanmu, dan menemukan harapan baru atas harapan yang telah lalu. Sayangnya, kau datang tak lagi sendirian, melainkan dengan harapan barumu, yang sungguh membuatku pilu.

Sunday, 2 April 2017

NgeShare - Kepada Mbak Ruroh dan Dimas


Mbak Ruroh, sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu, ya, maaf. Maaf ini kusampaikan karena entah mengapa kini setiap kali aku mendengar orang menyebut namamu atau membicarakan tentangmu, aku merasa cukup tergelitik. Mungkin itu karena tingkah dari Dimas, ya, tingkah Dimas. Dimas yang dengan tekadnya, ia selalu bersemangat dalam memperjuangkan cintanya kepadamu. Cintanya itu (mungkin) begitu tulus untukmu, karena meski cintanya selalu tak kau tanggapi, ia tak sekalipun berniat untuk menyerah ataupun pasrah. Ya, mungkin itu karena Dimas telah meresapi semangat api yang ditularkan oleh idolanya, yaitu Boy. Boy telah menjadi panutan Dimas sejak ia mengenalnya meski itu hanya sekadar dari layar kaca.

Sunday, 26 March 2017

NgeShare - Sederhana

Minggu pagi ngantar ibu ke pasar, mungkin itu merupakan rutinitas yang cukup sering dihindari oleh anak muda kekinian, yang lebih memilih tidur lagi sampai siang, sampai males buat mandi atau keluar dari kamar. Munafik rasanya bila saya mengatakan tak pernah berpandangan demikian. Ya, wajarlah bila ada pandangan seperti itu terlebih ketika masa-masa alay pernah datang dulu. Namun, dengan berjalannya waktu yang menggembleng diri untuk menuju kedewasaan, rasanya pandangan tersebut harus lekas dihilangkan, benar kan? (hehehe…)

Oke, kembali lagi ke masalah ngantar ibu ke pasar, kebetulan Minggu pagi ini, ibu meminta tolong kepada saya untuk mengantarnya ke pasar. Jujur saja, dulu sebelum merasakan yang namanya merantau ke kota lain, jika dimintai tolong oleh ibu untuk mengantarnya ke pasar, selalu saja ada alasan yang saya berikan. Alasan dari mulai males lah, masih ngantuklah, sampai habis bilang iya dari kamar eh, sayanya malah tidur lagi, tega ya saya (duh, hehehe...). Tapi semua itu perlahan mulai saya coba singkirkan, terlebih semenjak jauh dari rumah, jauh dari bapak dan ibu di kampung halaman, dan harus hidup sendiri di kota orang. Inilah titik puncak (klimaks) di mana saya harus merubah kebiasaan buruk saya, yaitu “malas” dan merubah diri dari yang sebelumnya jarang untuk bersyukur kemudian menjadi lebih bersyukur terutama bersyukur mengenai waktu ketika sedang berada di rumah.
 
 
Copyright © 2011-2017 | Surya Blog