Wednesday, 19 February 2014

NgeShare - Sebuah Makna [dari Bapak]

Sore itu [17/02/2014] gue lagi nyantai duduk di kursi ruang tamu, maklum habis pulang sekolah. Lagi nyantai-nyantainya duduk di kursi, pandangan gue teralihkan pada seorang laki-laki di halaman rumah. Laki-laki itu nampak sedang asyik melakukan sesuatu, sesuatu yang membuatku penasaran, penasaran ingin tau, ingin tau apa yang sedang dikerjakannya [lebay banget sih Adminnya ya].

Lantas gue dekatinlah dan ternyata laki-laki itu adalah bapak gue. Beliau nampak asyik sedang membuat sesuatu yang sepertinya mulai langka pada zaman yang serba modern saat ini. Apa yang dilakukannya? Coba lihat foto di bawah ini.

bleketepe
Bleketepe buatan bapak

Apa sebernanya foto itu dan apa gunanya? Foto di atas itu kalau di daerah gue [Ngawi] namanya "BLEKETEPE", setau gue [dari penjelasan bapak], bleketepe itu biasa digunain pas acara-acara manten [pernikahan] adat Jawa, merupakan komponen wajib dari tarub agung. Dibuat dari daun pohon kelapa yang dianyam.

Tarub Agung dalam pernikahan adat Jawa

Buat beleketepe itu bukan pekerjaan beliau, beliau adalah seorang guru SD. Hanya saja karena beliau terkenal memiliki kemampuan membuat bleketepe, banyak tetangga yang mau menikahkan anaknya pesan untuk dibuatkan bleketepe ke bapak. So, bapak gue kayak multitalent gitu (wkwkwkw...). Nah pas itu kebetulan ada tetangga yang lagi request ke bapak, so bapak sanggupin  untuk buat. Maklum zaman sekarang yang buat bleketepe itu mulai jarang.

Gue deketin bapak, gue tanya-tanya gimana dari cara buatnya [berharap kelak gue juga bisa buat], sama asal-usul kenapa bapak kok bisa buat bleketepe, sambil sesekali ngewangi [membantu].

Nah, pas gue tanya asal-usul kenapa bapak kok bisa buat bleketepe, ceritanya panjang banget, sampai-sampai gue lupa apa yang beliau ceritain [maaf ya pak, hehehe...]. Hanya beberapa kalimat yang sekiranya gue inget dan menurut gue itu maknanya luar biasa [buat gue].

Kira-kira beginilah cerita bapak dalam logat bahasa Jawanya yang tegas,
"Bapak iso ngeneki mergo bapak ndek mben cilik'ane uripe susah. Pengen opo-opo kuwi kudu usaha. Mergo kuwi bapak ndelok-ndelok, takok-takok cara nggawene, bapak akhire iso, lha iki jenenge autodidak. Ndek mben jamane bapak pengen, mergo bapak pengen kuwi, bapak njajal nggawe."

Translate ke Indonesia,
"Bapak bisa begini karena waktu bapak kecil dulu hidupnya susah. Mau ini mau itu, itu semua butuh usaha. Karena itu bapak melihat-lihat, tanya-tanya cara membuatnya, akhirnya bapak bisa, ya beginilah yang namanya autodidak. Dulu zamanya bapak mau, karena bapak mau itu, maka bapak mencoba membuatnya."

Itulah cerita awal mula atau asal-usul mengapa bapak memiliki kemampuan buat bleketepe. Cerita itu masih gue ingat sampai sekarang dan gak akan gue lupain. Karena cerita itu mengajarkan gue untuk
Jangan menyerah ketika kamu belum mencoba dan jangan malu ketika kamu ingin bertanya. Semua itu butuh proses, bukan dengan proses yang instan, bukan dengan proses yang mudah, proses hidup itu panjang dan berliku-liku dengan setiap hambatan di depannya. Tapi akan ada jalan ketika kamu mencoba dan berusaha untuk dapat terus berjalan.
Terima kasih banyak bapak, dari ceritamu itu aku [anakmu yang nakal] mendapat pembelajaran yang bermanfaat untuk hidupku kelak. Aku [gue] akan terus berusaha menjadi seseorang, seseorang yang berguna dan membanggakan untukmu [bapak] dan untuknya [ibu, keluarga, dan orang-orang yang menyayangiku]. :)
, ,
 
 
Copyright © 2011-2017 | Surya Blog