Thursday, 23 April 2015

NgeShare - Dolan Jilid 1 "Ngelanggeran"

Waktu itu kira-kira terjadi di hari jum'at (27 Februari 2015), hari di mana saya bersama beberapa teman kuliah saya (rizal, rilo, lukman, ahda, gio, edo, ihsan, dan dimas) akan memulai sebuah petualangan. Petualangan para bujangers (beberapa ada yang masih jomblo juga sih, nunjuk "saya", wkwkwkw...) dalam rangka mengisi kekosongan dan sarana penetralisir fikiran akibat tugas yang segudang (ceileh), tepatnya petualangan ke gunung api purba Ngelanggeran yang terletak di gunung kidul, Yogyakarta.

Sebelum petualangan ini dimulai, sudah pasti dan wajib hukumnya bagi kami untuk terlebih dahulu menyiapkan perbekalan yang akan saya dan teman-teman bawa dan butuhkan di perjalanan nanti menuju gunung ngelanggeran, tepatnya menuju puncak gunung api purba tersebut. Karena menurut saya, berpetualang tanpa disertai dengan perbekalan itu akan membuat diri semakin ngoyo/ lebih berusaha. Bukan hanya menurut saya, mungkin menurut sampean/ kamu juga demikian.

Memulai perjalanan dari rumah Rizal yang terletak di Kartosuro, kami berangkat sekitar pukul 18.30 WIB, karena kami bujangers yang taat beragama (amin), sebelum memulai perjalanan, kami menyempatkan diri untuk shalat magrib pada pukul 18.00 WIB. Selepas terpenuhinya perbekalan untuk jiwa dan raga, kami mulai perjalanan sekaligus petualangan ini dengan mengendarai motor (touring istilah orang berkata).

Dengan motor tentu bukan perkara mudah, sesekali kami harus saling menunggu satu sama lain, ya maklum karena hanya satu orang yang mengetahui rute tujuan kami. Kalau boleh jujur, saya belum pernah ke sana, nah berhubung belum pernah itu, maka saya pernahkan dengan mengunjunginya, hehehe...

Kendala itu akhirnya dapat teratasi, kami dapat sampai di basecamp gunung ngelanggeran pada pukul 22.00 WIB. Lha terus shalat Isya’nya? Tiba di basecamp, bukannya kami leyeh-leyeh, melainkan kami langsung mencari mushola dan menyempatkan diri untuk sembahyang shalat Isya’. Selepas itu kami teguk sebotol air dan beberapa panganan ringan sebagai pasokan tenaga kami menuju puncak gunung ngelanggeran.

Spirit untuk raga dan batin kami telah terisi, saatnya petualangan dimulai (pukul 23.00 WIB). Melewati jalan yang licin karena usai air hujan membasahi, bersama gelapnya malam yang sepi, hingga membuatnya rasa cukup ragu dan membatin dalam hati, "Apakah saya dan teman-teman nanti dapat tiba di puncak dengan selamat?".

Nampaknya pemikiran saya tersebut terlalu dangkal dan tidak terbukti benar, karena mengapa? Karena pada akhirnya saya dan teman-teman berhasil mencapai puncak dengan selamat sekitar pukul 24.30 WIB. Setelah tiba di puncak, kami langsung mendirikan tenda untuk tempat bermalam kami demi dapat berjumpa matahari terbit di pagi hari. Berbekal rasa solid yang tinggi, tak lama tenda pun berdiri. Langsung terlelap? Tidak, tidak, karena raga kami perlu energi, kami pun memasak beberapa mie instan (yang kami bawa) dan kopi instan sebagai pelengkap dan sekaligus pengusir rasa dingin yang menyelimuti hati. Tentu setelah makan dan minum kami merasa kenyang, dan rasa kenyang itu pada akhirnya membuat kami mulai terlelap.

Beberapa jam kami dalam mimpi, sekitar pukul 04.30 WIB, kami pun akhirnya terbangun menuju dunia reality. Dan kemudian tentu melihat apa yang ingin kami lihat yaitu matahari terbit atau orang mengatakannya sebagai "sunrise". Jelas kami terpukau, terlebih oleh keindahan yang diberikan pasti oleh Allah, sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Karena kami tehitung cukup eksis, sudah jelas kami tak lupa untuk menyempatkan diri berfoto-foto di atas puncak gunung dengan berani. Batinku berkata (lagi), "Sungguh indahnya alam Indonesia ini!".
A photo posted by Surya Adhi Kuncoro (@suryapersonal) on
 
 
Copyright © 2011-2017 | Surya Blog