Saturday, 20 February 2016

NgeShare - Kucing


Hampir 30 menitan aku melihatmu berdiri di depan rumahku, dengan kulihati pandanganmu yang tengah menatap ke atas, dan sepertinya sedang mengamati sesuatu. Kamu terlihat sangat serius seperti seorang yang sedang menunggu hasil pengumuman ujian. Hingga dari keseriusanmu itu, kamu sampai tak menyadari kedatanganku. Selangkah demi selangkah kakiku sama sekali tidak kamu hiraukan, bahkan untuk menorehkan pandangan sesaat ke arahku, itu pun tak kamu lakukan. Padahal biasanya kamu begitu peka akan kedatanganku, tapi tidak untuk waktu itu. Mungkin karena yang sedang kamu lihat itu lebih penting daripada aku. Tak tau aku tak tau mulanya, sampai akhirnya aku mengetahuinya ketika aku mengikuti arah pandanganmu yang mana kumenemukan beberapa ekor cicak menggerombol di atap rumah. Kamu melihatnya seperti sedang berharap, entah berharap seperti sewajarnya binatang yang sedang merasa lapar, menunggu waktu yang tepat untuk menangkap buruannya. Atau karena persepsi ketidakmungkinan yang aku buat, yang mana kamu merasa iri akan kesendirianmu yang tak seperti cicak-cicak yang sedang bergerombol dalam kebersamaan. Ah, aku mulai berimajinasi hal yang tak masuk akal, ah sudahlah lupakan. Tentang apa yang kamu mau lakukan dan inginkan, memang hanya kamu dan Tuhanlah yang paling tahu. Tak sampai aku selesai melihat dan menunggu gerak gerikmu, Ibu tiba-tiba memanggilku dari dalam rumah, memintaku untuk segera menghampirinya. Dan selepas itu, aku kembali untuk menemuimu di depan rumah, berharap dapat mengamati lagi tingkahmu yang membuatku penasaran. Tetapi setibanya aku di depan rumah, kamu telah tiada di tempat menunggumu tadi, yang ada hanyalah tinggal cicak-cicak di atap dan bekas pijakanmu di tanah depan rumah. Entah bagaimana hasil dari penantianmu itu, satu yang pasti, bahwa aku berharap semoga kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu mau dalam kesabaran yang telah kamu lakukan.

Post a Comment

 
 
Copyright © 2011-2017 | Surya Blog