Sunday, 26 March 2017

NgeShare - Sederhana

Minggu pagi ngantar ibu ke pasar, mungkin itu merupakan rutinitas yang cukup sering dihindari oleh anak muda kekinian, yang lebih memilih tidur lagi sampai siang, sampai males buat mandi atau keluar dari kamar. Munafik rasanya bila saya mengatakan tak pernah berpandangan demikian. Ya, wajarlah bila ada pandangan seperti itu terlebih ketika masa-masa alay pernah datang dulu. Namun, dengan berjalannya waktu yang menggembleng diri untuk menuju kedewasaan, rasanya pandangan tersebut harus lekas dihilangkan, benar kan? (hehehe…)

Oke, kembali lagi ke masalah ngantar ibu ke pasar, kebetulan Minggu pagi ini, ibu meminta tolong kepada saya untuk mengantarnya ke pasar. Jujur saja, dulu sebelum merasakan yang namanya merantau ke kota lain, jika dimintai tolong oleh ibu untuk mengantarnya ke pasar, selalu saja ada alasan yang saya berikan. Alasan dari mulai males lah, masih ngantuklah, sampai habis bilang iya dari kamar eh, sayanya malah tidur lagi, tega ya saya (duh, hehehe...). Tapi semua itu perlahan mulai saya coba singkirkan, terlebih semenjak jauh dari rumah, jauh dari bapak dan ibu di kampung halaman, dan harus hidup sendiri di kota orang. Inilah titik puncak (klimaks) di mana saya harus merubah kebiasaan buruk saya, yaitu “malas” dan merubah diri dari yang sebelumnya jarang untuk bersyukur kemudian menjadi lebih bersyukur terutama bersyukur mengenai waktu ketika sedang berada di rumah.

Waktu sedang berada di rumah pas libur kuliah, rasanya saya tak ingin menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja dengan mudah. Rugi rasanya jika hanya menggunakan waktu untuk bermalas-malas dan pasrah, tanpa sadar bila waktu untuk kembali ke kota rantau telah tiba. Agar tak seperti itu, maka lebih baik memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang lebih bermutu ketimbang bermalas-malas mulu. Nah, salah satu caranya adalah dengan menyanggupi permintaan bantuan dari orang tua, seperti mengantar ibu ke pasar misalnya. Daripada nanti juga kena omel, udah gede masa gak mau bantu orang tua, apa nggak malu? hehehe…

Di Minggu pagi, saya dan ibu pun pergi ke pasar dengan mengendarai sepeda motor. Sekitar sepuluh menit perjalanan, kami pun sampai di pasar tradisional. Biasanya sih saya hanya mengantar ibu sampai di depan pasar dan kemudian menunggunya di luar. Namun, pada saat itu saya justru memiliki keinginan untuk ikut ibu berbelanja di dalam pasar. Ya, jujur saja, sudah sekian lama saya tak merasakan bagaimana suasana di pasar. Seingat saya, waktu terakhir kali saya ikut ibu berbelanja di pasar, yaitu waktu saya kelas tiga SD. Ya, kelas tiga SD, waktu saya belum dibolehin sama bapak untuk berangkat sendiri ke sekolah naik sepeda. Saya jadi teringat pas masa itu, masa ketika ibu selalu setia dengan pit (sepeda) onthelnya menjemput saya pulang sekolah. Setelah itu biasanya ibu langsung mengajak saya ke pasar, ya karena jarak antara pasar dengan sekolah saya cukup dekat, jadi ya sekalian aja deh kayak pepatah yang berbunyi sambil menyelam makan bang minum air (hehehe...).

Berbekal kenangan dan rasa rindu terhadap masa lalu itu, serta mumpung lagi ngantar ibu ke pasar, maka saya memutuskan untuk ikut ibu berbelanja ke pasar. Motor saya pakir di parkiran pasar, lalu mulailah kami menelusuri. Menelusuri setiap lorong-lorong pasar, melewati beberapa pedagang, mencari beberapa keperluan dapur di sana sini, dan saling tawar menawari. Pemandangan dan suasana yang telah lama saya rindukan, dan akhirnya rindu saya terobati. Tak lupa ketika asyik mengikuti langkah ibu yang dengan gesitnya mencari kebutuhan yang harus dipenuhi, saya request kepada ibu untuk dibelikan jajanan tradisional, yaitu Cenil. Ya, Cenil jajanan tradisional yang saya sukai sejak kecil. Mungkin karena ibu masih mengingat akan kesukaan anaknya itu, ibu pun langsung mengiyakan permintaan saya tadi (hore), dan lantas membeli beberapa bungkus Cenil untuk dibawa pulang.

Di saat membeli Cenil dan melihat pedagang membungkusnya ke dalam plastik, tiba-tiba pandangan saya teralihkan kepada sepasang kakek nenek yang lewat di depan saya. Sang kakek telah nampak tak begitu kuat untuk berdiri tegap, ia dibantu dengan tongkat yang ia pegang dan bersama nenek yang menggandengnya erat. Mereka berdua berjalan bersama menyusuri lorong pasar yang ramai. Langkah mereka berdua pelan, tetapi saling berimbang, hingga mereka terlihat jauh dari pandangan saya.

Waktu itu saya terus memandangi mereka berdua yang terlihat nampak begitu harmonis nan romantis. Ya, romantis, rasanya mereka dapat membuat iri hati mata-mata sekitar yang memandangi. Hingga saya pun mendengar dari salah satu pedagang yang berkata sambil menunjukkan senyumnya, “Sudah tua, tapi masih seperti pengantin baru, ya.”

Kata-kata itu pun disahut oleh pedagang lainnya yang mengiyakannya sambil tertawa.

Ya, memang benar, meski usia mereka berdua tak lagi muda, namun mereka terlihat seperti sepasang muda-mudi atau pengantin baru yang sangat terlihat romantis. Ah, meski saya jomblo, tapi saya merasa adem anyem melihatnya. Saya merasa kagum kepada keduanya, mungkin inilah yang namanya cinta sejati. Ya, cinta sejati yang terlihat sederhana seperti yang pernah disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang berjudul “Aku Ingin” ini,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Atau seperti yang pernah disampaikan oleh Tere Liye ini,
Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya.

Seperti itulah sekiranya yang mungkin dimaksud dengan cinta sejati yang sederhana, sungguh luar biasa. Rasanya hati saya terketuk untuk berupaya dapat menjadi seperti mereka berdua, semoga saja nanti di suatu hari yang bahagia...


Post a Comment

 
 
Copyright © 2011-2017 | Surya Blog