1/28/2018

NgeShare - Bahagia

Pada perjalananku siang hari ini (16/01/2017) bersama roda dua yang kukendarai, sambil pelan melaju, aku menemui. Menemui beberapa anak SD yang pulang sekolah dengan berjalan kaki. Ya, berjalan kaki, hal yang mungkin cukup anti-mainstream untuk anak sekolah masa kini, tapi eits kalau rumahnya dekat dari sekolah, ya mending jalan aja dah. Melihat mereka berjalan bersama-sama, senang rasanya, aku jadi teringat masa-masa sekolah dulu, pulang bersama kawan sambil membicarakan sesuatu yang kami anggap waktu itu seru untuk dibicarakan, hah, masa itu, sayang ndak bisa keulang.

Oke, cukup membayangkan masa lalunya, balik lagi kepada cerita sebelumnya, di saat aku melihat anak-anak itu berjalan. Ketika mereka berjalan, awalnya aku hanya merasa tenang karena dapat mengingat sebuah kenangan, tapi begitu aku cukup memperhatikan, aku justru juga merasa heran. Ya, heran, kepada mereka yang berjalan justru tidak dengan sepatu yang mereka kenakan, alias tanpa alas kaki, kalau orang Jawa bilangnya “nyeker”. Sesuatu yang aneh kurasakan, padahal sepatu mereka punya, ya, punya, itu kulihat jelas mereka bawa di tangan, tetapi mengapa tidak mereka gunakan? Itu yang lantas menjadi pertanyaan. Sembari aku mengegas laju motorku, aku masih bertanya-tanya, mengapa mereka demikian. Padahal cuaca kala itu sedang panas-panasnya, kalau nyeker, jelas tak akan terasa nyaman di kaki, apalagi melewati jalan bertanah dan berbatu juga.

Namun, ketika laju motorku telah menjauhi mereka, pada akhirnya aku menemukan. Menemukan jawaban atas rasa penasaran yang sempat menghinggapi pikiran. Tepat ketika aku cukup dekat dengan sebuah bangunan sekolah dasar, di tepi jalan aku melihat beberapa genangan air. Genangan air sisa hujan semalam yang nampaknya cukup dalam bagi sebuah kaki kecil yang melangkahkan. Dan ketika aku secara cepat melihat beberapa genangan air itu, aku melihat seorang anak kecil yang masih berpakaian seragam putih merah, dengan tas dijinjing di punggungnya mencoba melepas sepatu di kakinya. Iya, melepas sepatunya di hadapan genangan air yang nampaknya menarik baginya. Ya, aku bilang menarik baginya, karena aku mengingat bagaimana ekpresinya ketika melihat genangan air waktu itu, “tersenyum”, itu yang kulihat dari raut wajahnya. Meskipun aku sedang berkendara, tapi karena kecepatanku yang memang sengaja kuperlambat, aku dapat melihat kepada peristiwa yang kemudian kuanggap berlalu dengan cepat. Peristiwa kepada anak kecil yang melepaskan sepatunya di hadapan genangan air itu.

Oh, iya, aku sebelumnya bilang kan kalau dia terlihat tersenyum ketika melihat genangan air di hadapannya, dan dengan cepat ia melepaskan sepatunya, membawa sepasang sepatu itu di kedua tangannya. Dari situ mungkin kamu dapat menebak, apa yang kemudian dilakukannya. Yaps, tepat sekali, dengan cepat ia melompat, lalu mendaratkan kedua kaki kecilnya di genangan air itu. Aku melihat dia melompat dan mendarat dengan begitu bahagianya. Rasa-rasanya itu momen bahagia tercepat yang pernah kusaksikan, entah terhitung berapa menit atau bahkan detik, aku lupa menghitungnya. Dan ketika dia telah mendarat, aku telah cukup jauh melewatinya, namun dari kaca spion memperhatikannya aku masih dapat.

Waktu melihat momen pendaratan itu, aku tertawa, namun dalam hati (*emang bisa), ya, nggak enak kan kalau aku tiba-tiba tertawa, apalagi saat berkendara sendiri, pengendara lain nanti malah berpikir macam-macam terhadapku (*hash). Lanjut lagi, aku tertawa dalam hati dan kemudian berpikir padahal genangan air itu tak cukup luas, ya meskipun banyak jumlahnya, tapi setidaknya masih ada jalan kering yang bisa dilaluinya tanpa perlu takut kalau-kalau sepatunya basah. Namun, ia justru antusias dan tak melewatkan genangan air di hadapannya. Yah, mungkin itu karena dia senang, senang bermain air, seperti aku maupun kamu waktu kecil dulu, kalau ketahuan ayah atau ibu bisa kena marah itu (hehehe...). Yah, aku jadi teringat masa lalu lagi, masa di mana hanya main dan jajan yang disenangi.

Post a Comment

 
 
Copyright © 2011-2018 | Surya Blog